unsplash.com

Cerpen Afrida Yeni*

Hilang sudah kebahagiaan yang terpancar dari pemuda itu, dalam hitungan detik kebahagiaannya benar-benar sudah hilang, mukanya murung tiap memandangi masjid itu. Masjid yang dua hari lalu masih berdiri gagah melantunkan suara adzan yang merdu menyeru manusia untuk beribadah, masjid yang menjadi tempat bermain dan belajar anak-anak, tempat berkumpul, tempat orang-orang beribadah kepada Tuhan tetapi sekarang hanya tersisa puing-puing bangunannya saja. Masjid itu telah hancur rata dengan tanah dihujam rudal Israel tepat saat manusia mengadu kepada Tuhan di waktu paling mustajab, di kesunyian malam yang diramaikan oleh para malaikat.

Tak banyak yang bisa ia lakukan sekarang. Ia adalah pemuda yang biasa mengajar anak-anak di masjid itu. Tetapi masjid itu sekarang sudah hancur. Anak-anak dan warga pun banyak yang meninggal. Semua orang berada di tenda pengungsian.

Di dalam hati ia mengutuk dan memaki, "Sungguh biadab apa yang telah mereka lakukan! cara mereka menyerang seperti seorang pengecut! kenapa mereka mereka menghujamnya di sepertiga malam? mungkin pada malam itu mereka yang sedang berdoa belum selesai doanya akan tetapi mereka sudah meninggal terlebih dahulu."

Belum selesai ia dengan makiannya sebuah peluru telah menembus dadanya. Samar ia melihat seseorang dengan seragam tentara israel tidak berada jauh dari lokasinya berada. Dengan sisa tenaga yang ia punya ia berteriak,

"Palestina pasti bebas, karena itu janji Tuhanku, seluruh muslimin pasti akan memeragi kalian, saat itu terjadi kalian hanya bisa bersembunyi disatu pohon, kalian tidak akan bisa bersembunyi dimanapun sekalipun dibalik batu atau pohon lainnya."

Lalu, peluru menembus dadanya sekali lagi. Pemuda itu tersungkur ke tanah. Dia gugur sebagai syuhada.  


Afrida Yeni adalah mahasiswa Universitas Negeri Semarang. 
Untuk mengenalnya lebih jauh, DM saja instagramnya @afridayeni1