Hilang
sudah kebahagiaan yang terpancar dari pemuda itu, dalam hitungan detik kebahagiaannya
benar-benar sudah hilang, mukanya murung tiap memandangi masjid itu.
Masjid yang dua hari lalu masih berdiri gagah melantunkan suara adzan yang
merdu menyeru manusia untuk beribadah, masjid yang menjadi tempat bermain dan
belajar anak-anak, tempat berkumpul, tempat orang-orang beribadah kepada Tuhan
tetapi sekarang hanya tersisa puing-puing bangunannya saja. Masjid itu
telah hancur rata dengan tanah dihujam rudal Israel tepat saat manusia
mengadu kepada Tuhan di waktu paling mustajab, di kesunyian malam yang
diramaikan oleh para malaikat.
Tak banyak yang bisa ia lakukan sekarang. Ia adalah pemuda yang biasa mengajar anak-anak di masjid itu. Tetapi masjid itu sekarang sudah hancur. Anak-anak dan warga pun banyak yang meninggal. Semua orang berada di tenda pengungsian.
Di dalam hati ia mengutuk dan memaki, "Sungguh biadab apa yang telah mereka lakukan! cara mereka menyerang seperti seorang pengecut! kenapa mereka mereka menghujamnya di sepertiga malam? mungkin pada malam itu mereka yang sedang berdoa belum selesai doanya akan tetapi mereka sudah meninggal terlebih dahulu."
Belum
selesai ia dengan makiannya sebuah peluru telah menembus dadanya. Samar ia
melihat seseorang dengan seragam tentara israel tidak berada jauh dari lokasinya berada. Dengan sisa tenaga yang ia punya ia berteriak,
"Palestina pasti bebas, karena itu janji Tuhanku,
seluruh muslimin pasti akan memeragi kalian, saat itu terjadi kalian hanya bisa
bersembunyi disatu pohon, kalian tidak akan bisa bersembunyi dimanapun
sekalipun dibalik batu atau pohon lainnya."
Lalu, peluru menembus dadanya sekali lagi. Pemuda itu tersungkur ke tanah. Dia gugur sebagai syuhada.

0 Komentar