Cerpen Eva Rafiqoh*
Ketika Ibunya melewati tikungan dan kemudian tertabrak mobil, anak perempuan itu tak habis pikir, mengapa Ibunya mau mati konyol. Buku puisi. Ibunya tewas di tempat karena membaca buku puisi ketika menyetir. Mungkin ia adalah satu-satunya anak di dunia ini yang sedih sekaligus bahagia ketika mendengar kabar bahwa Ibunya meninggal. Ia sedih di waktu pemakaman, tidaklah banyak orang yang menghadiri, kecuali pria-pria berambut putih dan botak yang repot-repot turun dari mobil sambil membawa payung berwarna gelap.
Setelah bunga ditaburkan ke pusara, satu persatu mereka menyalami anak perempuan itu. Anak perempuan itu hanya tersenyum dan sebisa mungkin mengucapkan terima kasih. “Terima kasih, semoga Anda tidak keberatan untuk segera melupakan nasib konyol Ibuku.”
Menurutnya, ini adalah pengalaman pemakaman teraneh yang pernah ia alami.
Kemudian, anak perempuan itu bahagia ketika akhirnya ia berhasil menemukan deretan buku sang ibu yang selama ini membuatnya penasaran. Di baris paling atas rak, berisi buku-buku Joseph Brodsky. Nama itu berhasil membuat ia dan Ibunya berbincang walau untuk yang terakhir kalinya. Pagi itu, Ibunya bercerita sambil tertawa tentang Brodsky. Brodsky pernah diadili ketika dituduh menjadi parasit masyarakat dan dianggap menjadi penghianat tanah airnya.
Ibunya meminum teh di depannya, dan melanjutkan, "Brodsky pernah ditanya hakim siapa yang berani memutuskan ia menjadi penyair, dan apakah pernah belajar puisi dari institusi? dan ia menampik bahwa puisi bukanlah berasal dari—institusi—pendidikan. Sang hakim bertanya lalu berasal dari mana? Brodsky menjawab puisi berasal dari Tuhan. Entah apa yang membuat Ibu semakin tertawa dan hampir mengeluarkan air mata ketika menyebutkan kalimat terakhirnya itu, ia meneruskan cerita yang pada akhirnya Brodsky memilih emigrasi ke Amerika dan menjadi seorang pengajar di Universitas.
Anak perempuan itu mengingat raut wajah Ibunya yang sangat antusias bercerita sampai tidak menghabiskan makannya dan lupa minum lalu langsung membawa bukunya masuk ke dalam mobil. Tak disangka ternyata nasib Ibunya sama dengan penyair itu, sama-sama mati, bedanya memang tidak ada yang sama.
Eva Rafiqoh. Kelahiran Batang, 2 Juli 1995, penyuka cerita humor dan sejarah. Pengunggah konten di akun Ig @tobuku dan blog rasanrasanbahasa ini. Pembaca dapat berkomunikasi dengan penulis di Fb: Eva Rafiqoh Utomo atau IG: eva_rafiqoh.

0 Komentar