Cerpen Arisa*

Rintik hujan membasahi Kota Lembang malam itu. seakan akan bumi benar benar merindukan air yang turun dari langit karena berbulan bulan musim kemarau menerjang. Di sebuah bangunan rumah sederhana, gadis cantik berambut lurus kecoklatan nampaknya sedang bosan. Ia lelah dengan rutinitas yang dijalaninya selama satu minggu ini. Kebetulan ini adalah malam minggu. Dimana ia dapat mengistirahatkan keharusan yang ia lalui di hari hari sebelumnya.

Aku berjalan gontai dari tempat tidur menuju balkon kamar. Balkon kecil yang sengaja di desain agar dapat digunakan untuk memandang indahnya temaram lampu kota dari kamar kecilku. Ya namaku Nadeea. Sebagian orang menilai bahwa aku ini cantik mungkin karena mata bulat dan bulu mata lentik yang kumiliki. Juga rambut panjang yang selalu ku urai. Aku duduk di kursi santai di balkon kamarku, aku sedikit melamun. Entah sedang memikirkan sesuatu atau justru sedang tidak memikirkan apapun.

Di akhir minggu seperti ini, biasanya aku selalu quality time dengan bunda dan ayah. Tapi itu dulu, sebelum kesibukan merebut ayahku. Setelah sadar dari lamunanku, aku turun ke dapur untuk membuat kopi hangat. Kemudian membuka kulkas untuk mengambil kue yang dibuat Bunda pagi tadi. Lalu naik ke kamar lagi. Mengambil ponsel dan laptop untuk kubawa ke balkon kamar. Suasana seperti ini yang sangat ku sukai. Duduk di balkon kamar berteman kopi,kue,ponsel dan laptop. Sambil memandangi suasana kota yang terlihat dari balkon kamar. kerlap kerlip lampu taman kota, suasana dingin dan angin malam yang menenangkan. Perlahan lahan aku pun mulai menyesap kopi kemudian mulai membuka benda pipih dengan case berwarna pink itu. aku membuka aplikasi instagram. Melihat instastory teman teman, ada yang sedang pergi liburan bersama keluarga, ada yang pergi kerumah saudara, ada yang hangout dengan kekasihnya, dan masih banyak lagi.

Menyadari riuhnya aplikasi instagram, aku beralih ke aplikasi youtube. Melihat apa yang sedang trend dan terjadi di belahan dunia. Aku mulai berselancar, meng klik trending. Dan muncul lah video tentang sepak bola. Awalnya aku sama sekali tidak tertarik, tapi karena bingung akan melihat apa akhirnya aku memutuskan untuk melihat video video mengenai sepak bola. oh iya, aku adalah orang yang selalu menyukai hal hal baru. Terbuka dengan hal hal yang belum ku ketahui sebelumnya. Ternyata banyak sekali hal yang belum kuketahui. Termasuk menariknya dunia sepak bola. aku mulai menonton bola, lama lama mulai tertarik, dan melihat lihat video sepak bola yang lainnya. Setelah melihat video pertandingan sepak bola, aku semakin penasaran dan tidak cukup jika hanya melihat saja, oleh karena itu aku pun mulai mencari berita berita mengenai sepak bola khususnya klub bola eropa. Kemudian aku mencatat nama klub bola eropa, tidak semuanya. Aku hanya memilih 5 klub sepak bola eropa dengan penonton terbanyak seperti Borussia Dormund, Barcelona, Manchaster United, Bayern Muenchen dan Real Madrid. Diantara ke lima klub sepak bola tersebut, yang paling ku sukai adalah Manchaster United. Klub yang di dominasi warna merah ini adalah sebuah klub sepakbola  profesional inggris yang berbasis di Old Traffod, manchaster raya yang bermain di liga inggris. setelah mencatat klub bola Manchaster United, aku mulai ingin tahu siapa saja pemain pemainnya dengan mulai mencari siapa saja nama nama klub bola eropa khususnya Manchaster United. Di sela sela  menjelajah di internet, pintu kamarku berbunyi. Aku  yang malas berdiri pun hanya berteriak “masuk aja, enggak di kunci kok pintunya” teriakku dari balkon. Ternyata yang datang adalah Bunda “Nadeea sayang, kamu kok ngga makan? Ayam goreng di meja makan masih utuh lhoh, bunda kan udah capek masak” kata bunda secara halus dan sedikit pura pura marah agar anak semata wayang nya ini makan.

 “eh bunda, nadeea kira siapa soalnya nggak manggil sih, cuman ketok pintu doang.”

“hehehe ya maaf deh, sana kamu makan sayang nanti sakit lho, apalagi kamu sekarang makin sering minum kopi kayak gitu. Nggak baik loh buat kesehatan” tutur bunda. Melihat tidak ada respon dari putrinya karena terlalu fokus dengan laptop, bunda berbicara lagi

 “yah nadeea bener bener tega nih sama bunda, bunda udah masak dari tadi sore loh tapi sampai malem belum juga kamu makan” kata bunda sedikit mendramatisir agar aku trenyuh.

"iya bundaaa nanti Nadeea makan, tapi nunggu ayah dulu. Nadeea pengen makan malem sama ayah sama bunda juga. Jadi nanti ya bun makan nya nunggu ayah pulang dulu” Nadeea merengek.

“sayang, ayah itu pulangnya besok. Malam ini ada project yang harus ayah selesaikan sama klien nya di jakarta.”

“loh kok Nadeea baru tau sih bun, yaudah bunda makan duluan aja, Nadeea masih harus nyelesain tugas dulu. Lagian dari tadi nadeea juga udah nyemil kue kok bun hehehe” kata ku sambil menutupi agar tidak terlihat sedih karena lagi lagi ayah sibuk sendiri dengan urusan kerja. Aku  juga berbohong pada bunda, padahal aku sedang tidak mengerjakan tugas apapun.

“haduh, yaudah bunda kebawah dulu ya mau ada temen bunda main kesini soalnya. Cepet makan loh kamu nya” kata bunda sambil berjalan keluar kamar.

“siap bunda sayang”

Setelah bunda keluar aku baru menyadari bahwa lagi lagi ayah sibuk dengan dunianya. Bisnis bisnis dan bisnis. Aku melanjutkan aktivitasku, padahal sudah sekitar 1 jam aku berada di balkon. Aku tidak bosan, justru senang karena dapat mengalihkan situasinya yang sedikit kesal pada ayah. Aku mulai mencatat nama nama pemain klub bola Manchaster united. Banyak sekali ternyata pemain nya dari tahun ke tahun. Dari sekian banyak pemain, aku mulai memilih untuk kujadikan idola. Awalnya 5 pemain yang aku sukai. Kemudian ku eliminasi menjadi 3 pemain hingga akhirnya aku benar benar kagum pada salah satu sosok pemain klub bola eropa. Namanya Edwin Van De Sar. Aku pun mencari informasi mengenai Edwin Van De Sar.

Ternyata Edwin Van de sar adalah seorang mantan pemain sepak bola profesional  asal Belanda, yang bermain sebagai penjaga gawang. Dia pernah menjabat sebagai kapten tim nasional sepak bola Belanda dan juga pernah bermain untuk klub Manchaster United di liga utama inggris. Edwin van de sar lahir pada tanggal 29 Oktober 1970 di Voorhout Belanda. Aku  mulai membayangkan tentang Edwin Van De Sar. Imajinasiku mulai berkeliaran ditengah rintik hujan yang tidak begitu deras dan masih awet mengguyur kota.

Andai saja Edwin Van De Sar ini ayahku, dia seorang penjaga gawang kenamaan belanda. Waah ayahku seorang pemain bola kenamaan?

Kalau edwin van de sar ayahku, lalu bagaimana dengan bundaku? Menyebut bunda, aku teringat sesuatu. Aku bangkit dari tempat duduk mematikan laptop dan meninggalkannya. berjalan keluar kamar menuruni tangga. Aku menuju meja makan. ternyata benar bunda sudah banyak memasak makanan. Aku boleh kesal terhadap ayah, tapi aku juga harus menghargai bunda. aku tidak boleh egois sekalipun sangat ingin berkumpul dengan ayah dan bunda di meja makan.
Setelah selesai makan, aku menaruh piring di wastafel kemudian mencucinya. Aku tahu bahwa di ruang tamu ada 2 teman bunda yang sedang berkunjung. Tapi aku sedang malas basa basi jadi aku memilih kembali menuju kamar. Aku menjatuhkan tubuh di kasur, menatap langit langit kamar. Imajinasi liar ku mulai beraksi. aku adalah anak bunda. Aku sangat menyayangi bunda. Bunda bagaikan mentari dihidupku, bersinar terang dan bercahaya. Dan aku adalah awan putih. Mentari dan awan putih sama sama berada di langit. Jika ada awan pasti juga ada mentari. Aku dan bunda sangat dekat. Awan putih dan mentari, mereka berteman baik. Sedangkan ayah? Aku juga ingin ayah menjadi seperti mentari. Berteman dengan awan putih dan memberi cahaya di hidupku. Tapi tidak bisa, sekarang ayah terlalu abuabu. Ayah seperti bukan ayah yang dulu. Ayah terlalu sibuk dengan dunianya. Dengan segalanya. Saat itu aku terlalu sibuk memikirkan ayah hingga tertidur lelap di kamar dengan nuansa putih itu.

Keesokan hari,sinar matahari masuk melalui celah celah jendela menyoroti mata berbulu mata lentik milikku. Aku terbangun. Aku mulai menyadari bahwa semalam aku ketiduran. Sejenak lupa bahwa aku sedang kesal dengan ayah. Kemudian aku menuju kamar mandi. Setelah selesai membersihkan badan, aku menuju dapur, pasti bunda sedang memasak.

“selamat pagi bundaaaa” sapa ku ceria.

“wah pagi cantik,”

“masak besar buat penyambutan ayah pulang ya bun”

“iya bentar lagi ayah pulang kok tunggu aja”

“beneran bun? Nadeea kangen banget sama ayah deh”

“bunda udah selesai masak, sekarang mau mandi. Kamu nyiapin masakan masakan ke ruang makan ya nak” perintah bunda

“siap bun” dengan senang hati sku melaksanakan perintah bunda..

Di hari minggu pagi ini, aku mengenakan celana santai berwarna hitam dan sweater berwarna pink dengan rambut di kucir kuda. Aku senang sekali, hari ini aku berencana akan mengajak ayah dan bunda pergi untuk sekedar menikmati suasana taman kota. Setelah selesai menyiapkan sarapan, aku naik ke kamar untuk mengambil ponsel. Kemudian turun ke bawah menuju ruang makan dan ternyata ayah dan bunda sudah berada di ruang makan. aku pun berlari dan menghampiri ayah. Kemudian mencium tangan ayah.

“ayah, nadeea kangen banget tau sama ayah,”

“baru juga ditinggal sebentar,” kata ayah sambil mengacak rambut yang sudah kurapikan.

“kita kan udah lama ngga liburan yah, ayah sibuk terus sih” kataku sambil mengerucutkan bibir.

“ya maaf sayang, ayah melakukan semua kan juga demi kamu” kata ayah.

“udah udah ayo semuanya sarapan dulu, bunda udah siapin lho” kata bunda menengahi perdebatan kecil antara aku dan ayah.

“iya bun, tapi pokoknya nanti kita harus liburan”

Ayah dan bunda bertatapan dan menggelengkan kepala. Di tengah tengah sarapan, ayah juga menceritakan apa saja yang dialami. Bertemu dengan orang baru, pengalaman baru. Ayah selalu mengajarkan bahwa kita hidup harus ada perubahan. Terbuka dengan hal baru, agar kita semakin tahu dan bijak menghadapi sesuatu. ditengah suasana hangat keluarga yang aku rindukan, tiba tiba telepon ayah berdering.

“iya pak dengan saya Hendardi” ....

“oh bisa sekali pak, nanti saya kabari lewat pesan saja ya pak” ....

“siapa yah?” tanya bunda

“pak reynar bun, dia pengen mengadakan pertemuan sama ayah membahas bisnis properti di solo.”


“ayah mau ke solo?” tanyaku

“iya sayang, kita liburan nya nunggu ayah bener bener longgar aja ya nanti malah nggak puas lagi kalau Cuma sebentar” ujar ayah

“iya nadeea, ayah sama Om Reynar sudah lama merencanakan bisnis ini. Jadi kita mendukung aja ya.

Lagian nanti kamu bisa pergi ke mall sama bunda kan?” kata bunda menenangkan. Bunda memang selalu mendukung apa yang ayah lakukan, bunda terlalu baik. Lagipula om reynar adalah sahabat ayah. Istrinya juga sangat dekat dengan bunda. Jadi bunda tidak akan menyalahkan ayah.

“yaudah deh, terserah ayah aja. Tapi nadeea tetep nungguin waktu liburan sama ayah titik.” Kataku sambi menyendokkan makanan padahal sudah tida nafsu makan.

“iya ayah janji nanti dari solo ayah juga akan bawa oleh oleh buat anak tersayang ayah yang cantik ini”

Aku dan bunda tersenyum.

Siang tadi ayah benar benar berangkat ke Solo. Kadar kesalku terhadapa ayah semakin bertambah. Bolehkan sesekali aku egois. Aku juga anak biasa yang ingin merasakan hangatnya keluarga. Ayah benar benar tidak bisa memahamiku. Aku rindu terhadap ayah yang dulu. Sebelum bisnisnya semakin berkembang pesat, setiap sore kami selalu olahraga bersama. Sekedar jogging mengelilingi kompleks ataupun bermain bulu tangkis. Sekarang bisnis ayah semakin berkembang, ayah bertambah sibuk dan waktu luangnya semain sedikit. Bisa dibilang ayah adalah orang yang pintar karena bisa mengembangkan bisnis keluarga yang diturunkan dari kakek.

Sepulang dari Solo, ternyata benar ayah membawakan oleh oleh untukku dan bunda. Ayah membelikanku baju batik yang ketika ku pakai sangat cantik dan anggun. Ayah juga membelikan baju batik yang cantik untuk bunda.

Ayah merasakan keinginanku untuk agar ayah tidak terlalu sibuk dengan bisnisnya. Ayah mulai mengajakku berolahraga rutin setiap sore seperti yang sering kami lakukan dulu. Kami juga sering pergi keluar unutk sekedar kulineran di kota bandung ini. Aku sempat bercerita pada ayah bahwa aku mengidolakan sosok pemain bola kenamaan belanda yaitu edwin van de sar. Aku bercerita bahwa aku sempat ingin mempunyai ayah seperti Edwin Van De Sar seorang penjaga gawang kenamaan belanda. Saat ayah masih sibuk dengan bisnisnya. Aku juga bercerita pada ayah bahwa ayah sempat tidak bisa menjadi mentari dalam hidupku. Tapi sekarang ayah telah berusaha memahamiku. Ayah juga sekarang menjadi mentariku. Aku tidak pernah berontak sekalipun kurang perhatian dari ayahku. Ayah bilang boleh mengidolakan seseorang, tetapi jangan sampai berandai andai juga. Itu artinya kita tidak bersyukur. Ayah bilang syukuri apa yang kita punyai saat ini.

Aku senang sekali sekarang ayah telah menjadi ayahku yang dulu. Walapun hati ini sempat terluka karena ayah terlalu sibuk dengan pekerjaan nya dan mengabaikan ku.  Tentu saja aku tidak mengabaikan pengalaman ini. Aku terlanjur mengidolakan sosok Edwin Van De Sar. Untuk itu aku ingin menulis tentangnya. Kisah tentang idolaku dimulai

Disini aku Nadeea berperan sebagai tokoh utama bernama evan. Evan adalah anak laki laki dari Edwin Van De Sar. Seorang penjaga gawang kenamaan belanda dalam klub bola eropa. Teman evan bernama Brithies dan Mandy. Edwin van de sar selalu mengajarkan kepada evan bahwa dalam setiap pertandingan selalu dimulai dengan Kick off. Kick off adalah elemen penting dalam permainan sepakbola. Didalam pertandingan sepak bola selalu diawali dengan kick off. Kick off juga dilakukan untuk memulai kembali permainan setelah gol terjadi.

Pada saat musim panas. Belanda masuk semifinal piala eropa. Betapa bahagianya hati evan karena sang ayah yang telah membesarkan nya kini mengikuti semifinal piala eropa. Evan selalu mendukung apa yang dilakukan ayahnya sampai saat ini hingga menjadi penjaga gawang kenemaan belanda. Sore itu evan bersiap siap menuju stadion untuk menyaksikan ayahnya bermain. Ayah berangkat dari kemarin pagi karena perlu persiapan bersama team nya. evan menuju stadion dan memilih tempat duduk paling depan agar terlihat jelas ayahnya. Ternyata musuh Belanda kali ini adalah portugal. Evan berdoa dalam hati agar ayahnya berhasil. Pasalnya selama ini evan selalu bercerita kepada teman teman nya bahwa ayahnya adalah sosok yang hebat. Sosok yang selalu menjadi juara di dalam hati evan.

Evan menaruh harap yang tinggi bahwa kali ini klub belanda akan menang. Awalnya klub belanda berhasil meloloskan bola ke gawang portugal jadilan poin antara belanda dan portugal 1-0. Betapa girangnya evan saat itu. tepuk tangan yang riuh menggema di stadion. Evan semain yakin bahwa ayahnya adalah sosok yng hebat. Didalam game babak ke dua, diluar prediksi evan, portugal berhasil memasukkan bola ke gawang belanda. Evan masih baik baik saja. Pertandingan mulai ramai. Ahirnya, lagi lagi portugal berhasil meloloskan bola bulat itu ke gawang Belanda. Jadilah poin akhir antara belanda dan portugal 3-1. Dunia evan seakan akan runtuh. Harapan dan keinginan nya yang tinggi tentang ayahnya pun mengikis. Evan pulang dengan keadaan hati yang sedih. Evan kecewa terhadap ayahnya.

Evan tidak tahu harus berkata apa pada teman temannya. Hari selanjutnya setelah pertandingan bola, edwin van de sar  belum juga pulang. Ayahnya masih sibuk dengan teamnya. Entah mempersiapkan untuk pertandingan selanjutnya, atau untuk mengoreksi kesalahan pertandingan dengan Portugal hari lalu. Saat pagi hari, dan sinar matahari menyapa. Evan merasa seluruh tubuhnya merasa tidak enak. Ia menyentuh keningnya, suhu tubuhnya tidak normal, tidak seperti biasanya. Evan juga merasa bahwa kepala nya sangat pusing. Mungkin disebabkan kemarin ia melihat pertandingan dan saat itu cuaca sedang terik teriknya. Atau mungkin karena evan yang masih memikirkan bahwa ia tidak bisa menerima kekalahan ayahnya bertanding dengan portugal kemarin. Entahlah yang jelas evan merasa sangat tidak enak badan. Untuk itu hari ini ia tidak berangkat ke sekolah. Ia ingin menelfon ayahnya, tapi terlalu takut apabila mengganggu. Tiba tiba ponselnya berdering. Dengan tubuh yang masih tertidur evan mencoba meraba ponselnya di nakas. Dan mengangkat telfonnya, ternyata dari ayah. Evan segera mengangkat telefon tersebut.

“halo evan, kau sedang apa? Maaf ayah belum bisa pulang ke rumah. Ayah masih ada pelatihan untuk pertandingan selanjutnya”

“aku sedang dirumah ayah, hari ini aku tidak masuk sekolah. Maafkan aku ayah, badan ku sedang tidak enak”

“kau kenapa? Sudah minum obat atau belum? cepat sembuh ya dan semoga besok juga segera bisa sekolah. Maaf ayah belum bisa pulang”

“iya ayah selalu hati hati ya”

kemudian telfon tertutup. Evan sedih, disaat sakit seperti ini ia membutuhkan perhatian dari sang ayah. Terkhusus semenjak mama nya meninggal dunia. Evan kesepian, ia teringat mamanya. Sejak kecil evan selalu mendapat kasih sayang dari sang mama. Mendapat perhatian penuh. Apapun kondisinya, mama selalu menyayangi evan. Mama juga sangat menyayangi ayah. Selalu mendukung apapun yang dilakukan ayah. Mama adalah sosok terhebat di dalam hidup evan. Sosok yang selalu tersenyum dan selalu mencurahkan kasih sayang penuh kepada evan dan ayah, Tetapi tuhan lebih sayang mama. Keindahan hidup itu harus selesai direnggut oleh takdir. Mama pergi ke surga terlebih dahulu. Meninggalkan evan dan meninggalkan berjuta juta kenangan yang akan evan simpan di dalam hatinya sampai kapanpun. Evan tidak akan pernah melupakan sang mama. Matahari di hidupnya.

Evan teringat sesuatu. saat ayah nya selesai bertanding dan memperoleh piala kemenangan, sore itu senja menjadi saksi keharmonisan keluarga evan sebelum mama pergi. Ayah mengajari evan bermain bola walaupun evan tidak tertarik untuk berkecimpung dunia bola. ayah mengajarkan bahwa setelah melakukan kick off, tindakan selanjutnya yaitu mengoper bola ke penyerang. Sebelum mama pergi, ayah tidak pernah se sibuk ini. Evan tahu bahwa kesibukan ayah sekarang adalah salah satu cara untuk mengalihkan ayah dari sedihnya kepergian belahan jiwa. Ayah tidak akan pernah mencari pengganti mama. Mungkin ayah butuh waktu membiasakan diri tanpa mama dengan mencari kesibukan diluar. Sedikit mengabaikan evan tentunya.

Selang satu bulan kekalahan belanda terhadap portugal, klub bola kembali mengadakan pertandingan. Pagi itu Edwin Van De Sar sudah bersiap siap untuk pergi ke asrama sepak bola bertemu temanya karena pertandingan akan diadakan 2 hari lagi. Pagi itu juga evan sudah siap akan berangkat ke skolah.

“evan, doakan ayah ya agar pertandingan kali ini ayah berhasil membanggakan kamu dan juga mama” tutur ayah sambil mengusap rambut evan dengan halus

“evan sayang ayah, evan tahu ayah adalah sosok yang hebat. Semangat ayah, buat mama tersenyum” kata evan sambil memasukkan kotak bekal ke dalam tas.

“kau yang pintar sekolahnya ya, buat mama tersenyum juga”

Evan mencium tangan ayah kemudian berangkat sekolah. sebenarnya ia ragu ragu. Pasti disekolah akan banyak sekali perbincangan perbincangan mengenai sepak bola. evan tidak pernah mau berkecimpung dalam dunia bola sekalipun ayahnya adalah seorang penjaga gawang kenamaan. Entah, yang jelas evan lebih menyukai membaca buku dan belajar buku ilmu pengetahuan. Evan berangkat dijemput mobil jemputan dari sekolahnya.

Evan adalah seorang anak yang tidak banyak bicara. Terlebih setelah ia kehilangan mama nya. entahlah, dunia terlalu abuabu menurut evan. Terkadang sangat meyakinkan terkadang juga begitu meragukan. Ternyata benar sesampainya di kelas, evan melihat segerombolan anak laki lai yang sedang berbincang bincang serius.

“hey evan, bilang pada ayahmu pertandingan melawan rep.cheska nanti jangan sampai kalah lagi. Memalukan tahu!” kata salah satu teman evan yang nampaknya kurang menyukai keberadaan evan.

“kekalahan bukan dikarenakan ayahku saja! Memangnya satu team hanya ayahku saja pemain nya?” evan berontak dengan sedikit menjawab dengan keras olokan temannya. Evan sangat kesal ketika ayahnya selalu disalahkan.

“ah kau! Bilang pada ayahmu latihan yang serius! Agar tidak membuat malu pendukung teamnya”

“tidak usah banya bicara ya! Ayahku hebat. Ayahku adalah penjaga gawang kenamaan! Lihat saja pertandingan melawan rep.cheska nanti ayahku akan unggul! Aku percaya bahwa ayah bisa melakukannya” evan masih terus membela ayahnya.

“terserah kau saja, kami pegang omonganmu ya!” kata teman temannya.

Evan hanya terdiam. Sambil berkata dalam hati bahwa ia sangat takut karena tidak begitu yain bahwa ayah akan memenangkan pertandingan nanti. Entah nanti muka nya akan di taruh dimana apabila lagi lagi ayah gagal.

Hari dimana pertandingan dimulai. Klub sepakbola berusaha keras untuk memperebutkan posisi apik yaitu posisi pertama. Saat itu evan masih sedikit merasa tidak enak badan. Untuk itulah evan hanya melihat pertandingan melalui televisi. Kondisi badan nya tidak memungkinkan untuk evan melihat langsung ke stadion. Awalnya team belanda bermain dengan baik. Semua berjalan mulus. Namun dari menit ke menit klub belanda mulai lengah. Evan was was sambil selalu berdo’a dalam hati nya. namun lagi lagi harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Ketika tim belanda takluk oleh rep.cheska untuk memperebutkan posisi ketiga. Evan sangat sedih saat itu. ia kecewa, terhadap ayahnya dan terlebih kepada diinya sendiri mengapa ia tidak menghargai usaha ayah. Evan lebih memperdulikan pembicaraan temannya daripada usaha ayahnya untuk menjadi yang terbaik dalam setiap pertandingan. Evan lelah, semua fikiran di kepalanya masuk tanpa mengetuk. Seakan akan mau pecah saja.

Evan semakin malu bertemu teman temannya. Kemarin ia sangat yakin bahwa ayahnya bisa, ayahnya hebat. Tapi hari ini adalah bukti bahwa lagi lagi, kalah. Evan tida bisa membayangkan bagaimana teman teman akan mengolok oloknya. Ia malu, entah karena apa. Untung ada brithies teman evan. Brithies adalah sahabat baik evan. Brithis tak pernah membicarakan evan layaknya teman lain. Disaat teman lain mengolok olok evan karena kekalahan ayahnya, Brithies selalu ada untuk evan. Brithies mempunyai hati yang baik.  Brithies tulus berteman dengan evan. Bagaikan pelangi dihidup evan. Memberi warna di hidupnya. Terlebih setelah mama meninggal, brithies selalu ada untuknya.
Evan kecewa. Ia membayangkan andai semua pemain bola itu mempunyai kemampuan yang sama seperti Ruud Van Nistelrooy. Sosok pemain sepakbola yang hebat. Ia merupakan pencetak gol terbanyak ketiga sepanjang masa dalam sejarah liga champions dengan torehan 56 gol. Ruud Van Nistelrooy pernah menjadi pencetak gol terbanyak liga champions sebanyak tiga kali. Dan juga pernah menjadi pencetak gol terbanyak di 3 liga elit eropa yang berbeda. Ia pernah berganung dengan klub PSV Eindhoven, Mancahster united, Real Madrid, Hamburger SV, dan Malaga. Ya, apabila semua pemain seperti Ruud Van Nistelrooy, kekecewaan tidak pernah hadir di hati evan.
Ditengah kekecewaan hatinya, evan berusaha mengobati. Melihat lihat album foto masa lalu. Dilembar pertama terdapat dirinya saat masih berumur 1 tahun. Rambut pirang,mata hazel,dan hidung mancungnya sambil mmegangi cindera mata bola yang saat itu merupakan buah tangan dari ayahnya saat berkunjung ke barcelona. Dilembar kedua terdapat foto ayah dan mama nya menggendong evan kecil. Terlihat raut muka bahagia dari sang ayah dan mama. Mungkin karena dipercaya tuhan untuk mempunyai buah hati. Lembar selanjutnya ada foto candid yang diambil mamanya saat ayah sedang melatih evan bermain bola. hari itu dipagi yang cerah, evan ingat sekali. Kami bertiga pergi ke taman untuk berpiknik ria. Tak lupa ayah membawa bola. di taman, ayah mengajari evan bermain bola. evan berusaha menendang bola namun, tendangannya tidak tepat sasaran. Ayah berhasil merebut bola tersebut. Evan tersenyum memngingat kenangan indah itu. setidaknya tuhan sangatlah baik menjadikan mama sebagai mamanya. Mama terbaik didalam hidupnya.

Seiring berjalannya waktu ayah semakin sibuk. Ayah semakin giat berlatih di stadion. Jadilah ayah jarang pulang karena jarak stadion dengan rumah cukup jauh. Ayah menyadari bahwa masih mempunyai tanggung jawab yaitu evan. Terbesit dalam fikiran ayah bahwa ayah akan mengajak evan pindah ke apartemen dekat stadion. Ayah berharap ditengah sibuk pelatihan juga bisa menjaga evan dengan baik. Akhirnya evan dan ayah pindah ke apartemen. Evan berpamitan kepada brithies. Evan berterimakasih kepada brithies karena kebaikan hatinya. Evan tidaka akan pernah melupakannya.
Sesampainya di apartemen.

“evan, ayah punya teman, tinggal di apartemen sebelah kita. Ia punya anak seumuran denganmu juga. Namanya mandy. Ia baik hati, ayah harap mandy bisa menjadi teman baikmu disini ya”

“baik ayah, nanti evan akan berteman dengannya”

“untuk urusan sekolah kau juga bisa satu sekolah dengan mandy”

“siap ayah” evan selalu menuruti perkataan ayahnya.

Sesaat kemudian ayah dan evan membersihkan apartemen.. mulai dari menaruh barang barang ditempat yang sudah dipersiapkan, membersihkan dapur,kamar dan lain lain. Setelah selesai ayah pamit kepada evan akan meuuju ke stadion. Evan hanya mengangguk.

Evan berjalan ke balkon partemen. Ia melihat view yang ada disana. Biasa saja, bahkan menurut evan jelek. Karena ia sudah terbiasa di pemandangan rerumputan hijau,tanaman segar di rumahnya. Yang dibuat oleh mamanya dulu. Pemandangan di apartemen hanya gedung gedung tinggi yang sangat evan tidak sukai. Udara pengap dan ramainya situasi stadion yang terlihat dari balkon itu membuat evan lelah sendiri.

Evan beranjak menuju dapur, tetapi ia tersentak ketika ada seseorang yang duduk di ruang tamu sambil membaca buku yang bergambar itu. kalau ayahnya tida mungkin. Ayah kan sudah pergi ke stadion fikir evan.

“hey namamu siapa? Kenapa kau kemari? Kau mengenalku? Atau mengenal ayahku?’ tanya evan

“aku mandy” kata anak tersebut sambil melihat evan

“yang tinggal di apartemen sebelahku?”

“ya, selamat datang kau mau kan jadi temanku?” mandy mengulurkan tangannya

“ya, namaku evan. Senang bertemu denganmu” aku membalas uluran tangannya

“kau suka membaca ya?” tanya evan sambil duduk disebelah mandy.

“iya, aku suka membaca tentang dunia antariksa. Aku ingin tau kehidupan selain di bumi yang menyesakkan ini” jawab mandy

“wah hebat, kau ingin jadi astronot ya”

“tidak, aku ingin menjadi pilot”

Evan tidak megeerti pembicaraan mandy mengarah kemana,meurut evan mandy adalah orang yang misterius dan sulit ditebak. Evan menghiraukannya. Evan mengambil minum di dapur untuk teman barunya itu.

Setelah mandy pulang karena ayah juga pulang dari stadion, evan membaca sebuah lembaran lembaran kertas di meja ruang tamu. Rupanya itu adalah laporan pertandingan liga inggris. Evan membukanya, ia membaca nama Edwin Van De Sar tergabung dalam fulham fc. Evan sudah lama melupakan kekecewaan nya atas kekalahan ayah di pertandingan pertandingan sebelumnya. Evan berharap kali ini team ayahnya kan menang.

Hari Pertandingan dimulai

Sebelumnya ayah berkata bahwa evan harus menyaksikan pertandingan secara langsung di stadion. Akhirnya evan bersama mandy. Evan tidak menceritakan kepada mandy bahwa ayahnya adalah sosok yang hebat. Evan takut ketika ia melebih lebihkan malah ia kecewa seperti yang dilakukan nya pada teman sekolahnya dulu. Evan dan mandy berangkat menuju stadion.

“evan, kau tidak ingin terjun di dunia sepak bola seperti ayahmu ya”

“tidak, aku kurang menyukainya”

“padahal pasti terdapat darah pesepak bola handal di tubuhmu”

“tapi aku tidak menyukainya”

Sesaat kemudian evan dan mandy fokus melihat pertandingan. Riuh ramai dan sorak semangat dari
penonton memecah keheningan stadion. Saat ini banyak orang yang berharap bahwa klub fulham memenangkan pertandingan. Banyak orang yang menaruh harapan pada sang penjaga gawang dan pemain lainnya. Evan hanya bisa berdoa agar kali ini pertandingan berakhir membahagiakan hatinya,hati ayah dan juga mama.
dulu saat mama masih ada, aku selalu duduk di pangkuan mama ketika melihat ayah bertanding. Mama selalu membelikan kembang gula untukku. Kami memberi semangat pada ayah.

Golllll... ... ..

Teriak penonton di stadion. Evan melewatkan nya karena sibuk dengan fikirannya sendiri.

“masih satu kosong. Liverpool unggul, tidak apa apa belum terlalu berat untuk seorang pemain kenamaan seperti ayahmu” kata many menghibur evan.

Evan hanya mengangguk. Ia merapal dalam hati, ayo ayah kau pasti bisa. Jangan lengah, mama melihatmu dari atas sana. Mama selalu berkata jangan mengecewakan orang lain.

Babak kedua dimulai. Team fulham berhasil meloloskan bola ke gawang lawan. Evan lega, setidaknya saat ini kedua team tersebut seimbang. Tak ada yang tertinggal. Liverpol mulai melancarkan strateginya, entah apa evan tidak mengerti. Yang jelas ketika fulham berhasil meloloskan bola ke gawang lawan, pemain liverpool mulai bangkit dan bermain dengan apik. Hingga pertandingan beerakhir dimenangkan oleh liverpool. Betapa kecewa hati evan. Mamanya pasti juga kecewa. Mandy melihat raut kecewa di wajah evan.

“sudahlah tidak apa, ayahmu dan team sudah bekerja keras, sudah berusaha dan berbuat yang terbaik. Mungkin kemenangan bukan sekarang tapi nanti.” Kata mandy sambil menepuk bahu evan.

“tapi mama, aku ingin mama tersenyum atas kemenangan ayah”
Mandy menyadari evan sedang terpukul. Ayahnya pun tak bisa berada di sampingnya saat itu karena pasti, masih sibuk evaluasi dengan team bolanya.

Evan dan mandy pulang menuju apartemen nya masing masing. Evan lelah hari ini. Entah mengapa melihat bola di stadion tanpa sang mama adalah hal yang melelahkan. Tapi evan bersyukur mandy datang di hidupnya. Evan mengambil air dingin untuk minum. Setidaknya meredakan dahaga di tubuhnya, tapi tak bisa meredakan lelahnya menonton pertandingan bola tanpa sang mama. Evan mengambil remot tv dan menyalakannya. Siaran tv penuh dengan semarak kemenangan liverpool.

Ada berita yang menyiarkan bahwa ratu elizabeth sangat bahagia. Ratu elizabeth menyambut
liverppol sebagai pahlawan. Ratu elizabeth memberikan penghargaan kepada pemain liverpool. Evan tak ingin larut dalam kesedihan.

Selang beberapa bulan kekalahan belanda dengan liverpool, ayah semakin giat berlatih. Ayah adalah penjaga gawang kenamaan, tapi evan tidak tahu mengapa akhir2 ini teamnya selalu kalah. Ayah tentu selalu belajar dari kesalahan, tetapi nampaknya lawannya selama ini mempunyai kemampuan yang tak tertandingi.

Seiring berjalannya waktu berita olahraga memanas khususnya di dunia sepakbola. Kepindahan edwin van de sar ke manchaster united menjadi berita paling trending saat ini. Berbagai awak media menyoroti. Di koran, sosial media, majalah menjadikan headline “edwin van de sar pindah ke manchaster united” tentu semua terkejut. Tak terkecuali evan. Evan melihat sendiri berita tersebut di telesvisi. Evan sempat pingsan dan ayah menemukan evan di kursi tempatnya melihat berita tersebut. Ketika sudah sadar, ayah segera bertanya mengapa evan pingsan.

“kau kenapa? Apa kau belum makan dari tadi pagi?”

“iya ayah, tadi evan lupa makan karena sibuk membaca dan menonton tv. Maafkan evan ayah.” Evan berbohong padahal ia pingsan karena terlalu terkejut mendapat berita ayahnya pindah. Evan takut ayahnya tidak bisa memberikan yang terbaik untuk klub ternama manchaster united.

Kekhawatiran evan benar benar terjadi saat manchaster kalah dalam pertandingan. Hanya selisih satu poin ketika pemain  MU hampir meloloskan bola ke gawang lawan tetapi out ball. Saat itu evan tidak melihat pertandingan. Karena stadion yang jauh dan evan juga memang tidak ingin melihat. Evan tidak ingin melihat kekalahan team ayah untuk kesekian kalinya. Evan memang egois tanpa memikirkan usaha ayahnya.

Selang dua bulan setelah pertandingan pertama ayahnya di klub MU, saat ini piala dunia sebentar lagi akan diselenggarakan. Ayah harus berjuang lagi menghadapi piala dunia, tetapi tidak dengan klub MU. Ayah berjuang dengan klub belanda. Awalnya evan tidak ngin melihat pertandingan padahal ayah sudah berkali kali mengajaknya ke jerman untuk menyaksikan piala dunia. Evan tidak mau dengan alasan tidak ingin meninggalkan kegiatan sekolahnya dalam waktu yang lama. Setelah ayah berangkat evan berubah pikiran. Evan mengajak mandy ke jerman untuk menyaksikan ayahnya. Crew sepak bola ada yang belum berangkat, jadilah evan dan mandy berangkat ke jerman bersama crew sepak bola belanda. Mereka menuju stadion tempat dimana piala dunia dilaksanakan. Tanpa sepengetahuan sang ayah, evan duduk diantara ribuan penonton di stadion itu. tetapi salah satu crew sepakbola yang mengenal evan adalaha anaknya edwin van de sar pun mengajak evan dan mandy untuk bergabung bersama crew lain agar terlihat dengan jelas. Evan dan mandy mengikutinya. Dan benar ia berada di paling depan tribun penonton. Saat itu ayahnya sedang bertanding kemudian tersenyum dan melambaikan tangan kepada evan. Evan bahagia.karena belanda masuk final piala dunia.

Setelah final nanti belanda akan berhadapan dengan argentina. Hanya selang waktu tiga hari dan sekarang tiba saatnya bertanding. Argentina cukup mendominasi dalam pertandingan ini. Evan sudah was was. Seiring berjalannya waktu pertandingan berakhir dengan belanda yang memasukkan gol ke bola lawan. Tetapi tetap saja belanda kalah, karena skor terakhir antara argentina dan belanda adalah 4-3. Evan lagi lagi kecewa. Ia tidak menerima kekalahan belanda. Setetes air mata jatuh di pipinya. Mandy yang menyadari lalu berkata

“sudahlah tidak apa, ini tidak buruk. Ayah mu sudah berusaha keras untuk yang terbaik. Yang membuat mamu sedih bukanlah kekalahan ayahmu. Tetapi kau yang selalu kecewa  seperti ini” kata mandy menenangkan evan. Ada benarnya juga perkataan mandy tadi. Evan men ghapus air mata lenmahnya. Mandy berkata

“kau harus memberikan sesuatu untuk ayahmu, setidaknya ia sudah berhasil mencapai tahap ini.” Kata mandy

Benar evan harus berdamai dengan keadaan. Evan mengajak mandy untuk keluar stadion dan ketika berjalan  menuju tempat istirahat para pemain bola, evan melihat toko bunga yang indah. evan mengajak mandy untuk membeli bunga tulip disana. Setelah selesai membayar, evan dan mandy menuju tempat istirahat para pemain disana ia melihat ayahnya sedang membersihkan badan. Mandy berhenti di pintu, evan menghampiri sang ayah dan langsung memeluknya. Ayah pun membalas pelukan hangat dari anak semata wayangnya itu. evan kemudian melepas pelukan dan berkata

“ayah selamat ya, aku punya sesuatu untuk ayah”

“wah apa itu sayang” tanya ayah

evan memberikan bunga tulip yang indah kepada sang ayah. Ayah menerimanya dengan senyuman penuh arti.

“ayah bunga ini melambangkan cinta abadi evan kepada ayah. Juga kasih sayang yang tak terhingga ayah untuk evan. Bunga ini juga penghargaan unuk ayah karena ayah telah menjadi ayah yang hebat untuk evan. Evan sayang ayah.” Evan memeluk sang ayah lagi

Ayah menerima bunga itu sambil berkata

“cantik sekali bunganya, terimakasih evan. Nanti setelah selesai, kita pulang ke apartemen dan liburan kemanapun yang evan mau ya. Kita juga pergi ke makam mama. Evan juga harus memberikan bunga cantik ini ke mama. Ayah sangat sayang padamu nak! Tunggu ayah akan bersiap siap kemudian kita liburan ya” kata sang ayah menggendong evan dengan bangga. Ayah menyadari kehadiran mandy di pintu. Ayah melambaikan tangan kepada mandy dan mereka bertiga berpelukan.
Last goal yang sesungguhnya bagi seorang Edwin Van De Sar adalah berhasil memeluk putranya. Berhasil berjanji bahwa ia akan sering meluangkan waktu untuk evan. Karena selama ini ia menyadari ia terlalu sibuk dengan dunia bolanya. Sampai lupa ada jagoan kecilnya. Edwin van de sar mengajak evan pergi liburan ke New Zealand. Taklupa mandy juga diajak olehnya. Kebahagiaan terus terpancar di wajah edwin van de sar dan evan. Mereka bersatu dalam kasih sayang penuh. Mama juga selalu ada di hati ayahn dan evan sampai kapanpun.

Arisa adalah manusia yang lulus SMA tahun 2020. Orang biasa yang mempunyai banyak mimpi tapi tidak berani menyuarakannya. IG @arriissaaaaa, twitter @arisaabcde