pixabay.com
cerpen Rina Astriani*

"Neneknya yang sudah meninggal tujuh tahun lalu mendatanginya lagi, meminta dia mengantarnya ke suatu tempat. Anehnya, mimpi itu terus berulang beberapa tahun belakangan. Syarah tak pernah tahu, ke mana neneknya meminta diantar olehnya karena dia selalu terbangun ketakutan ketika neneknya mendekat dan hendak menggandeng tangannya."

***
 Syarah terbangun dari tidurnya dengan tubuh gemetar sambil berkali-kali mengucap istighfar. Baju dan rambutnya basah oleh keringat. Kejadian seperti ini tidak hanya terjadi satu dua kali. Terhitung sejak bulan Ramadhan kemarin, sudah empat kali Syarah mengalami mimpi yangserupa.

“Huft, kenapa mimpi itu lagi.” Ucapnya setelah mengela nafas untuk menenangkan diri

Tubuh Syarah masih terbaring di kasurnya. Tangannya mencoba mencari gawai yang dia letakkan di meja belajarnya. Mudah saja bagi Syarah menemukan gawainya sebab meja belajarnya itu memang sengaja diletakkan tepat di samping ranjang dan hanya sedikit lebih tinggi darinya.

Layar gawai dia hidupkan dan nampak bahwa waktu baru menunjukan pukul 11.37 malam. Rupanya baru sekitar setengah jam Syarah tertidur. Ekor matanya mencari daun pintu di kamarnya. Ketika didapati pintu itu masih tertutup, ia sedikit lega walaupun masih terbayang-bayang mimpinya barusan.
Neneknya yang sudah meninggal tujuh tahun lalu mendatanginya lagi, meminta dia mengantarnya ke suatu tempat. Mimpi itu terus berulang beberapa tahun belakangan. Syarah tak pernah tahu, ke mana neneknya meminta diantar olehnya karena dia selalu terbangun ketakutan ketika neneknya mendekat dan hendak menggandeng tangannya.

Wajah neneknya yang masih tergambar jelas memaksa Syarah untuk mengingat-ingat, adakah sesuatu yang dia lupakan? Syarah akhirnya beranjak dan menyalakan lampu kamar. Matanya segar kembali, tak bisa tidur. Sambil meneguk air putih dia melihat check list agenda hari ini, ternyata ini hari Kamis. Selepas salat maghrib tadi dia lupa lagi dengan agenda yang pernah menjadi  rutinannya sebelum dan awal-awal merantau, tahlilan.

“Pantas saja nenek mendatangiku lagi.” Gumamnya lirih.

Rina Astriani adalah mahasiswa Akuntansi yang sedang menantang diri dalam program pembaca menulis.
Untuk mewujudkannya, saat ini dia memberanikan diri belajar dalam kelas cerpen NesatopiA. Boleh saling sapa di instagram @rinaastriani_