Cerpen Mu'amanah*
"Hasilnya gimana? Masih sama?" tanyaku memastikan.
Ani hanya mengangguk dengan raut keputus asaan. Sesekali ia nampak terdiam, dan bersi keras mengingat kejadian yang ia alami sebelumnya.
"Kemana ya, uangnya?" Kata itulah yang kerap kali muncul dari bibir Ani. Dengan perasaan cemas yang teramat jelas di wajahnya.
Ia pun mencoba mengotak-atik data administrasi di buku bendara ponpes. Sesekali ia menghitung lembaran-lembaran uang kertas itu kembali. Dengan harapan, semua uangnya bisa utuh. Dan sebanding dengan hasil di kolom saldo.
Mengatur keuangan bukanlah perkara mudah. Apalagi, bagi bendahara baru seperti Ani. Itu akan menjadi masalah besar jika ia gagal mempresentasikan laporan keuangan dihadapan seluruh santri.
"Mbak, gimana dong? Apa mungkin ada yang mencurinya, ya?" lirih Ani ketakutan.
"Hus!"
Beberapa waktu lalu memang ada kasus yang serupa. Ada beberapa santri yang mengaku kehilangan uang. Usut punya usut, ternyata pelakunya dari kalangan santri sendiri. Dia tertangkap basah saat menjalani aksinya. Beruntung, santri itu masih mau mengembalikan uang yang ia curi, dan mau mengakui perbuatannya.
Apa mungkin ada yang mencurinya, ya? Ah, entahlah. Sebelum aku terlalu jauh berpikir, aku putuskan untuk meneliti kembali catatan administrasi yang dipegang Ani dari awal. Memastikan tak ada kekeliruan di dalamnya.
"Dek, lihat deh. Ini kan di kolom kredit, harusnya hasil saldo yang terakhir dikurangi, tapi malah kamu tambahkan," cetusku menepuk dahi.
*Siti Mu'amanah. Lahir di Blora, Jateng. Alumni MA Tarbiyatul Islamiyah - Pucakwangi.

0 Komentar