Cerpen Azka Shadam*
“Biarkan para koruptor itu melepas bajunya telanjang ketakutan dengan aksi ini,” kata Sopyan.
“Benar juga Yan, salah siapa beraninya bermain dengan siluman maut. Bagaimana kabar Komandan Sobri, apakah luka siraman air keras di tubuhnya sudah membaik?” ucap Jajang.
“Sudah lumayan katanya. Eh, aku tidak habis pikir, kok bisa penegak hukum cuma memberikan hukuman 1 tahun sama pelakunya”
“Itu mengapa negara ini sudah dibilang buta, karena hukum sudah menjadi pelacur bagi mereka yang berani membayar lebih. Tidak ada salahnya kan kita membalaskan dendam dengan membunuh mereka yang tercatat menzalimi rakyat”
“Besok target kita siapa lagi?”
“Yang jelas koruptor kakap, ia adalah dalang penganiayaan komandan. Petinggi partai sikat enak, Tunggul Subando. Kirimkan surat ancaman kepadanya via email, lalu sadap sosial medianya dengan pengakuan bahwa ia yang menganiaya komandan”
Keesokan harinya omongan mereka benar dilakukan dan didapati tulisan “Tidak sengaja, Bos” menggantung di tubuh korban yang tidak lagi bernyawa. Siapakah korban selanjutnya?
Azka Shadam, merupakan pemuda kelahiran Pati, yang saat ini mengeyam pendidikan di UIN Sunan Kalijaga, jurusan manajemen keuangan syariah. Ia beranggapan bahwa menulis merupakan media mengungkapkan isi hatinya. Pembaca dapat menyapa Shadam melalui poselnya shadamajha@gmail.com, Instagram :shadam_123, dan Facebook: Azka Shadam.

0 Komentar