Cerpen Wahib*
Ku ketok pintu beberapa kali, namun tidak lekas mendapatkan sambutan. Lalu kuterawang isi rumah melalui kaca jendela rumah, penasaran apakah orang-orang pada tertidur atau memang tidak ada orang. Lama menunggu, aku tersadar jendela rumah yang terbuka itu akhirnya kujadikan pintu agar dapat merangsek masuk kedalam rumah. Tak lama kemudian akhirnya aku sudah bersantai dan menyalakan tv yang dipajang di lemari kayu tua. Sepertinya aku sangat menarik, hingga tv tertarik untuk menontonku yang sedang duduk bersender dan tertidur.
Sesuatu membangunkanku. Terdengar suara kunci membuka pintu.
“Loh Badrul, pulang toh? Kok ngga ngabarin dulu?”
Aku langsung menyerbu kedua tangan seseorang yang baru masuk ke rumah. Ku ciumi punggung tangannya dan juga telapak dalamnya. Sudah 7 bulan aku tidak bertemu mama.
“Loh bagaimana caranya ngabarin? Mama aja hp ga punya, lagian Badrul kan pengin bikin surprise ke mama”
“Ah kamu”, mama mendekap badanku dengan rangkulan penuh kehangatan.
“Loh mas? Kamu pulang naik apa? Kok ga bawa motor?”
“Hehe, iya ma, motorku ilang soalnya”
“Loh kok bisa mas?”
“Ya bisa lah ma, masa gabisa”, aku tertawa meledek.
“Sudah lah mah, aku juga yang beli motornya sendiri, kenapa mama yang pusing?”
“Bukan gitu mas, sebulan yang lalu, saat bpkb motor turun karena sudah kamu lunasi, mama langsung pake bpkb itu buat ngutang di Bank 10 Juta. Ya kan lucu to mas, yang jadi jaminannya motor, masa motornya ilang”
Mama tertunduk lesu.
Aku langsung tersenyum menatap mama
“Santai mah, rezeki masih bisa dicari”
Aku mengenakan jaket dan ranselku. Segera bersiap untuk kembali bertempur.
“Mah, aku langsung berangkat ya ma”
“Ah kamu persis kaya almarhum bapakmu!”
Wahib Asmungi merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Unnes. Ia sering mengaku ganteng di medsos, tetapi ia tak kunjung memiliki kekasih karena para perempuan selalu memikirkan hal sebaliknya. Wahib punya komitmen yang kuat, sekokoh status jomblonya.

1 Komentar
Apakah itu kisah nyata?
BalasHapus