Cerpen Riska Nurfadila*

Aku meneyeka peluh yang ada di dahiku. Dengan lemas berjalan sepanjang trotoar dari sekolah. Ribut suara klakson motor dan mobil membuatku ingin marah dan terbang saja menuju rumah tanpa harus berjalan. Aku melewati sebuah toko kecil dengan kulkas penuh dengan jus sugar. Sepertinya minum jus sangat menyenangkan siang ini, batinku. Membayangkannya saja sudah membuat hatiku senang, apalagi jika nanti ibu membuatkanku. Aku tak sabar sampai ke rumah. Meneguk jus dan berbicara pada ibu jika tadi ulanganku dapat 100. Aku bergegas jalan.

Oh tidak, aku lupa jika Ibu tadi pagi pamit akan pergi arisan di rumah tante dan pulang malam. Aku lari ke dapur, dan langsung membuka kulkas. “bahkan ibu tidak meninggalkan sedikitpun es untukku.” Batinku lagi.

Aku duduk, berpikir keras. Diam-diam menyentuh sendok di sampingku dengan serius. “cesss” sendok yang kupegang membeku seketika. Aku kaget, langsung mencucinya. Sebab aku teringat ucapan Ibu tiga tahun yang lalu, “jangan merubah benda semaumu, Ibu akan marah.”

Aku meletakan baju merah putih yang kupakai ke tempat cucian kotor. Tiba-tiba terdengar suara penjual es krim yang setiap hari lewat depan rumahku.

“bangggg, beli.” Aku teriak dari dalam rumah, berlari dengan menggengam uang lima ribuan dua lembar.

“es krimnya sudah agak mencair, neng.” Ucap mang Odi.

“tadi gerobaknya di tinggal ke toilet, ada orang jahil ngebuka tutupnya.” Tambahnya.

Aku diam, ketika ia sudah selesai menyiapkan es krim untukku, aku diam-diam memasukan tanganku ke dalam wadah es krimnya. Tak lama, lima detik kemudian aku sudah sedang memakan es krim di tanganku.

Ia berlalu pergi. Walau mukanya masih terlihat murung.

“ semangat!!!”

Riska Nurfadila, aktif di kelas cerpen Nesatopia.