Cerpen Yani Yuliana*

Uwung......Uwung.......Uwwwwweeeeessssss......

Suara Blower milik mbah Surono yang sedari tadi membisingkan ruangan tamu membuat semerbak bau bawang merah serasa menusuk paru-paru. Seharusnya, tak begitu. Namun apa boleh buat? Rumah yang masih berdinding anyaman bambu nan beralaskan tanah itu mampu mendatangkan puluhan tamu setiap minggunya. 

Malam hari, aku mengendap-endap lewat belakang rumah. Untung bulek telah bersiap dengan motor Supra kesayangannya.

"Bapakmu lihat ? Tanya bulek.

"Santai, aku berhasil lolos."

Meski bapak punya kekuatan mistik, namun dia blm pernah membuatku juara dalam lomba apapun. Begitulah di pelosok desaku, selain kemampuan pasti menghandalkan sesuatu hal lain yang tak masuk akal tapi nyata. Yeah,,,,,kuingin seperti mereka. Tentu saja dengan persetujuan ibu.

"Lah sama siapa buk?"

"Entahlah, terserah nanti bapakmu marah kalau tau ibuk pergi kesana."

"Hm.....(agak mikir)"

"Bulekmu, coba tawarin."       

"Air ini minum ya." Kata seorang kakek tua berbadan kurus nan agak bungkuk. Kumenatapnya hingga tak berkedip. Sosok itu muncul begitu saja dari balik engsel kuno bergambar wayang Gatutkoco dan Janaka.

" Sudah diberi do'a mbah?" Kata bulek sambil menerima segelas air putih dari tangan keriput itu.

"Walah......gawat nggak mampu juara satu, lawanmu terlalu hebat. Tapi santai, juara 2 nanti."

Tuck...........Kuletakkan grlas bening yang telah kuminum isinya sampai habis. Semoga harapanku menjadi kenyataan.

Namun, apalah daya ketika aku hanya bisa pasrah menghadapi kenyataan bahwa sesungguhnya 1,2, dan 3 telah diraih oleh mereka sang juara. Oh..... Betapa malunya diriku, ketika tau skor olimpiade seakan menjerat tubuh bagai tak percaya, skor terendah ke 2 dari sekian banyak peserta.

Yani Yuliana, siswi MA Tarbiyatul Islamiyah Pucakwangi. Kini sedang bergiat di Kelas Cerpen Nesatopia.