Cerpen Alisa Qottrun*

“Ayah, Ana mau ke pasar malam. Teman-teman Ana sudah ke sana semua. Ana juga mau,” rengek Ana, bocah delapan tahun, kelas dua SD.

Ayahnya bingung hendak menjawab apa. Sebab minggu-minggu ini tangkapan ikan sedang sepi. Ia hanya bisa mendapat tiga puluh ribu dari hasil melaut. Uang itu hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan daftar kas bon di warung Mbah Jumi semakin panjang, entah selesai kapan. Sedangkan istrinya hanya ibu rumah tangga sekaligus membantu berbenah di rumah juragan kapal. Upahnya diberikan setiap awal bulan sebesar lima ratus ribu. Uang itu sebagai pemotong daftar kas bon di warung Mbah Jumi.

“Ayah bagaimana?” tanya Ana sekali lagi.

“Iya Ana. Nanti malam setelah magrib kita ke sana,” jawab Ayah.

Ana meloncat kesenangan dan memeluk ayahnya. Ayahnya juga tersenyum, tapi dalam benaknya memikirkan bagaimana mengatasi permintaan-permintaan Ana selanjutnya ketika di pasar malam. Uangnya hari ini mendapati dua pilihan untuk kesenangan Ana atau memenuhi kebutuhan. Jika uang ini untuk kesenangan Ana maka daftar kas bon di warung Mbah Jumi bertambah. Namun, jika menolak keinginan Ana sama saja menyakiti hatinya. Ia tak tega melihat Ana menangis dan merasa dirinya berbeda dengan teman-temannya.

Benar saja selepas magrib Ana dan ayahnya berangkat ke pasar malam naik sepeda ontel. Di pasar malam Ana naik komedi putar dan membeli kembang gula. Semuanya pas dua puluh ribu. Untuk besok hanya sepuluh ribu dan tambahan daftar kas bon di warung Mbah Jumi.

Alisa Qottrun penyuka lampu kota dari ketinggian. Jika berkenan silakan kunjungi akun instagram @saaalisaa.saa.