Cerpen Abu Rifai*
“Kalian putus saja.”
Renata diam, tak seperti sepuluh menit sejak kami bertemu di Kafe LaMaria—menit-menit kala ia menceritakan kegelisahannya tentang Lim, kekasihnya.
“Putus mungkin berat, tetapi berpacaran dengannya juga menyengsarakan,” kataku lagi. “Lim terbukti main perempuan, memanfaatkan uang yang kauberikan untuk judi, dan…”
“Yun…”
“Jangan stop dulu. Hubungan yang sehat mensyaratkan perhatian antara dua orang, kerelaan hati untuk memberi dan menerima, serta kebahagiaan yang disengaja. Hubungan kalian tidak begitu."
"Aku rela memberikan banyak hal, Yun. Kautahu itu."
"Ya, tapi dia tidak rela menerimannya; ia menuntut."
"Tetapi... "
"Tetapi. Itu yang sering Lim katakan, dan kau pun menggunakannya saat membela kekasih ngawurmu itu."
Renata diam, tampak gusar. Jelas ia memikirkan suatu hal rumit; kemungkinan putus hubungan dengan Lim, atau mempertahankan cinta bodohnya.
Ini bukan pertama kalinya ia bimbang dan meminta pendapatku soal kelanjutan hubungannya. Saranku hampir selalu tak berguna. Kadang aku berpikir ia hanya menganggapku radio rusak, dan karenanya ingin sekali kucampakkannya tapi selalu batal karena ia sahabatku dan ia orang baik. Tetapi kali ini Lim amat keterlaluan. Ia kembali ketahuan bercumbu dengan perempuan berbeda; tak ada lagi alasan bagi Renata untuk bertahan.
“Putus saja.”
Tak ada jawaban kunjung terucap, mungkin takkan ada. Renata menekuk wajah, menghadap permukaan meja. Hapenya bergetar, dan secara terburu-buru ia mengangkatnya dengan muka lega yang aneh.
“Siapa?” tanyaku.
“Lim…”
Telepon itu tak lama. Kala berakhir, Renata melapor: barusan Lim meminta maaf dan mau bertemu.
“Untuk terakhir kali?”
Renata menggeleng. Saat itu juga, kutahu kami akan bertemu kembali di sini dengan kegelisahan yang sama. Sebentar lagi.
Pucakwangi, 20 Juni 2020. 20:15 WIB
Abu Rifai merupakan mahasiswa Sastra Inggris Universitas Negeri Semarang. Kini belajar di Kelas Menulis Cerpen Nesatopia. FB: Abu Rifai. IG: @aaburifai.

0 Komentar