![]() |
| tribunnews |
Cerpen Wiwik Supriyanti*
“Suara apa ini?” batinku bertanya saat terjaga di tengah malam takbiran.
Setengah sadar aku simak suara itu. Bukan hanya takbiran, tapi ada alunan musik dangdut.
"Mas ...." Sedikit terkejut karena suami masih terjaga padahal dalam masa pemulihan.
"Enggak bisa tidur. Takbiran model opo kuwi," ucapnya kesal.
"Ramadan harusnya menambah ketakwaan. Bukan seperti ini yang justru mengganggu tetangga." Suami mencoba menutup mata tapi masih belum bisa terlelap. Aku bangkit menuju dapur.
“Iki balungane, Nduk," ucap bapak menyerahkan tas.
"Kung, Mas Yan enggak bisa istirahat. Kasihan," keluhku.
"Zaman sekarang nek negur anak muda sama aja cari perkara, Nduk," jawabnya beringsut meninggalkanku.
Aku serahkan balungan sekitar tiga kilo itu pada ibu. Lalu mengekor bapak.
"Kakung tolong mriko nggih," pintaku sedikit memelas.
"Biarkan! Nanti juga berhenti sendiri."
Bapak menyerah. Sebelumnya pernah diingatkan Pakde saat Bude sakit. Reaksinya di luar dugaan.
"Wong muter musik di rumah sendiri, kampung ya milik sendiri. Listrik juga bayar sendiri kok do ribut," ucapnya.
Sejak itu, Bapak enggan turut campur. Malas beradu argumen tak berujung solusi.
"Lha, rombongan." Suara suami mengalihkan perhatianku. Dia membuka jendela.
Aku mengekor. Tampak tiga lelaki dengan beberapa sound system mengarah ke rumah kami.
“Kamu ke sana, Dik,” pintanya setelah merebahkan tubuh di kasur.
Sendiri menemui bapak-bapak di tengah malam. Membutuhkan keberanian untuk memenuhi permintaan suami. Akhirnya, aku mengalah.
“Kak, ngapunten,” ucapku.
“Eh piye, Mbak?”
“Ngapunten, bisa diperkecil? Mase gerah. Sakit.”
“Oh, lha katanya diminta takbiran di rumah,” jawabnya singkat.
Aku diam dan pulang. Menghindari debat. Benar, suara takbiran dangdut itu sudah berkurang.
Wiwik Supriyanti, lahir dan besar di Pati, Jawa Tengah. Istri Supriyanto ini menjadikan menulis sebagai terapi hati. Ibu rumah tangga dengan dua anak (Aisyah dan Fatih) ini bisa ditemui di media sosial fb: Wiwik Ummu Aisya.

0 Komentar