Cerpen Abu Rifai*

Di dunia ini, ada dua jenis masakan yang selalu kurindukan. Pertama, segala masakan Mak. Kedua, nasi goreng Mak Rukati. 

Untuk yang pertama, kerinduanku lebih karena aku dan Mak punya ikatan emosional. Dari kecil Maklah yang merawatku. Segala masakan darinya kuanggap curahan kasih sayang. Hal ini beda dengan nasi goreng Mak Rukati. Aku mencintainya dengan segenap lidah dan tanpa embel-embel ikatan darah. Mak Rukati memang tetangga, tapi aku jauh lebih mengenalnya sebagai penjual nasi goreng paling enak sedunia. 

Aku memang pencinta nasi goreng. Tiap kali pergi ke suatu daerah, aku akan mencari warung nasi goreng yang mampu memanjakan lidah. Akhirnya aku sampai pada simpulan: nasi goreng Mak Rukati terbaik. Tak ada yang mampu menyamai kelezatannya. Aku selalu merindukan nasi gorengnya. Apalagi kini, aku merantau di Jakarta bersama Bapak dan hanya pulang enam bulan sekali.

Kedai kecil Mak Rukati berada di pinggir Jalan Pantura, tak jauh dari alun-alun Juwana. Namanya “Nasi Goreng Istimewa”. Sungguh biasa saja. Orang-orang baru yang luput mengetahui kemasyhurannya barangkali takkan melirik. Namun, semua akan berubah jika sudah merasakan. Hidung takkan berhenti mengendus, dan lidah takkan kuasa berhenti mengecap rasa menakjubkan nasi goreng istimewa itu. Siapa saja bakal kegirangan. Mau sepanjang apa pun antrean, mereka bakal terus menunggu seperti aku sekarang.

Aku melihat Mak Rukati dan Pak Tarman sibuk memasak. Pak Tarman memotong-motong daging dan sayuran, sedangkan Mak Rukati membolak-balik nasi di atas wajan. Meski baru buka setengah jam lalu—warung ini buka pukul empat sore—para pembeli sudah berbondong-bondong datang. 

Mereka pun tak punya karyawan yang membantu memasak meski sering sekali terlihat kewalahan. Dua karyawan yang dipekerjakan hanya bertugas mengantarkan makanan dan mencuci piring. Saat kutanya, jawaban Mak Rukati sederhana: dia belum bisa memercayai orang lain memasak resep rahasia dari simbahnya. Dia takut masakan yang hadir di atas piring tak selezat dan seagung seharusnya.

Aku maklum, kini malah sedikit khawatir dan takut cita rasa nasi goreng ini akan luntur suatu hari atau bahkan hilang. Mak Rukati dan Pak Tarman belum punya anak. Kabarnya, mereka sudah berobat ke berbagai daerah tapi percuma. Kabar lain mengatakan, Pak Tarman penyebabnya: dia mandul.

Terlepas dari kabar ini, Mak Rukati merupakan pendamping hidup yang baik. Tiap kali aku melihat pasutri itu bersama, Mak Rukati selalu tersenyum kepada suaminya. Kata Mak, dia memang begitu setia. Sifatnya itu sudah tampak sejak kecil. Mak Rukati tak pernah membiarkan temannya sendirian.

“Mangga, Mas,” kata Mak Sumiyati, karyawan warung ini, sambil tersenyum. Entah mengapa, gincu merah terang pada bibirnya seolah jadi isyarat bahwa nasi goreng yang kupesan akan begitu menggairahkan. 

Sebelum makan, aku memotret keindahan dalam sepiring nasi goreng ini: nasi berwarna cokelat keemasan, kuning telur yang terbentuk kecil-kecil karena terus diaduk, bercak cabe merah yang tampak seperti pernak-pernik, suwiran daging ayam kampung, dan taburan bawang goreng berwarna cokelat. Lalapan pun tampak menyegarkan. Ada dua irisan mentimun, kol, dan yang tak pernah kutemui di nasi goreng lain: setangkai kemangi. 

Aku mengambil sendok dan langsung melahap sesuap nasi. Kuikutsertakan segala bahan kecuali mentimun. Dan suapan pertama itu rasanya telah mewakili seluruh rasa lezat makanan di bumi ini! Aku merasakan sebuah kemewahan dalam bentuk sederhana. Kau boleh bilang aku berlebihan. Namun kujamin, kau akan merasakan hal sama; kenikmatan nasi pera pedas dengan sedikit sentuhan manis kecap, nuansa lembut telur dan suwiran daging ayam, rasa pahit dan renyah khas bawang goreng, serta segarnya sayur kol dan rasa unik daun kemangi. Jika lidahmu cermat, kau akan menemukan sensasi lain dari campuran bahan yang akan terus jadi pertanyaan dalam otakmu. Kau tiba-tiba menjelma sebagai juri lomba masak yang terpesona dengan masakan kontestan lalu menanyakan komposisinya. Begitulah. Mak Rukati memang tak menggunakan penyedap instan. Dia meracik bumbu sendiri—bumbu dalam resep rahasia. Sejauh ini aku hanya bisa menebak bahwa jahe adalah salah satu bahan dalam bumbu itu. Ini berdasarkan nuansa hangat yang membekas saat masakan melewati kerongkongan.

Tak terasa satu porsi nasi goreng cukup besar itu telah lenyap dari piringku. Rasa pedas dan sedapnya benar-benar membuatku terperanjat. Keringat muncul di sekujur wajah seolah aku baru lari maraton puluhan kilometer. Jika sudah begini, aku harus langsung meminum sirop nanas buatan Pak Tarman. Minuman itu akan meredam sensasi pedas yang begitu ugal-ugalan. Hah!

Dengan rasa seagung ini, tak mengherankan apabila warung Mak Rukati selalu ramai pembeli. Pelanggan lama tetap setia, dan pelanggan baru terus berdatangan. Nasi goreng ini telah menakhlukkan hati para penikmatnya, mengukirkan kelezatan di sebuah tempat yang takkan bisa dijamah nasi goreng lain.

Namun, seperti hal-hal indah lain yang tak serta-merta dikagumi segenap orang, nasi goreng Mak Rukati juga memiliki koalisi pembenci. Bagiku mereka tak lebih dari pesaing bisnis makanan yang iri pada Mak Rukati karena selalu berhasil memikat orang. Mereka biasanya mengatakan nasi goreng Mak Rukati dicampur bahan tak sehat, mengadung lemak babi, dan bahkan sampai ke dugaan mistis: Mak Rukati menggunakan penglaris. Wajan hitam yang digunakan untuk memasak nasi goreng itu adalah benda pusaka. Di sana berdiam seorang jin yang menyihir nasi goreng serta lidah pembeli, membuatnya begitu lezat hingga kenikmatan semacam itu tak didapatkan pada masakan lain. Tentang tuduhan berbau mistis ini, aku tentu tak percaya. Meski sepengetahuanku wajan itu tak pernah diganti atau rusak sedikit pun selama bertahun-tahun, Mak Rukati dan Pak Tarman kukenal sebagai tetangga yang rajin beribadah.. Mereka tak mungkin melakukan praktik klenik semacam itu.

***

Aku sungguh tak menyangka saat Mak menelepon dan memberi kabar Pak Tarman meninggal.

“Dia dirampok pas beres-beres warung. Pas mau tutup,” kata Mak. Lanjutnya, ada tiga luka tikam di perut Pak Tarman. Yang paling membuatku bertanya-tanya, berdasarkan penyelidikan polisi, tak ada uang yang diambil. Yang hilang malah setoples bumbu rahasia dan wajan hitam.

Spekulasi-spekulasi pembunuhan muncul dalam pikiranku. Tentang orang-orang iri yang acap kali menebar berita bahwa nasi goreng Mak Rukati berbahan tak sehat dan haram. Tentang nasi goreng yang disihir menjadi super nikmat oleh jin yang bersemayam di wajan hitam. 

Alasan terkuat bagiku berkaitan dengan desas-desus bahwa wajan untuk memasak nasi goreng adalah pusaka penglaris. Aku menyimpulkan ini karena sang pembunuh hanya mengambil benda hitam itu dan resep rahasia. Barangkali dia seorang pesaing bisnis yang hendak menyelami lebih dalam resep itu dan membuktikan apakah wajan itu benar-benar ajaib. Namun setelah kupikir-pikir lagi, bisa jadi ini hanya perangkap. Pembunuh Pak Tarman sengaja menciptakan skenario ini agar orang-orang berpikiran sepertiku sebelumnya. Padahal sebenarnya, dia bukan saingan bisnis atau berencana mengambil resep dan wajan. Barangkali dia musuh Pak Tarman atau Mak Rukati, seseorang yang menaruh dendam untuk alasan pribadi. 

Pertanyaan mengenai musabab pembunuhan itu bertahan hingga aku menginjakkan kaki lagi di rumah. Sekarang sudah sekitar enam bulan dari hari kematian Pak Tarman; selama itu spekulasi-spekulasi bergumul dalam pikiranku. Aku sudah bertanya kepada Mak dan teman-teman kampung. Namun mereka juga sama bingungnya. Pelaku pembunuhan belum bisa dilacak polisi. Maka hari ini, hari keduaku di rumah, aku memutuskan pergi ke warung Mak Rukati. Kata Mak, dia sudah berjualan seminggu, beberapa hari setelah masa idahnya habis.

Sore ini, warung tak seramai enam bulan lalu dan sebelumnya. Hanya ada lima pelanggan. Aroma menakjubkan yang biasanya menyambut hangat pun tak ada; yang hadir cuma sekelumit bau menyengat tumisan bawang merah dan putih yang dibawa angin. Perasaanku mulai tak enak. Apakah kelezatan nasi goreng telah tamat seiring dengan pemakaman Pak Tarman? Apakah nasi goreng ini tak lagi istimewa?

Aku memesan langsung kepada Mak Rukati. Tidak ada tanda-tanda karyawan di sini.

“Biasa, Mak,” kataku. Mak Rukati sudah paham, bahwa “biasa” bagiku adalah nasi goreng pedas. Aku duduk di dekat tempat masaknya. Kulihat wajan masaknya baru, berwana abu-abu. Karena tak ramai, satu porsi nasi goreng telah tersaji di mejaku.

Pelan-pelan aku menyantap. Dan seolah menjadi seorang peserta yang was-was saat masakannya dicicipi juri galak, Mak Rukati mengamatiku. Aku canggung, sekaligus merasa sedih mengetahui nasi goreng bikinannya benar-benar telah kehilangan cita rasa istimewanya saat sesuap nasi masuk dalam mulutku. Tidak ada sensasi yang menggetarkan lidah, juga telah lanyap nuansa hangat saat ia masuk melewati kerongkongan. Ia tak hambar, tetapi biasa saja. Tak ada yang spesial meski kukira semua bahan telah ditaruh di sana.

Air muka Mak Rukati pun berubah. Aku yakin dia sedih. Kerutan kulit di wajahnya kian kentara.

“Maaf, Mas, kalau masakan saya sekarang tak seperti dulu,” lirihnya tiba-tiba, “seorang perempuan yang kehilangan suami tercinta takkan bisa memasak sebagaimana sebelumnya.”

Mak Rukati mengusap rintik air mata dan peluh di wajah dengan jilbab cokelatnya. Maka segala pertanyaanku pun pupus, menguap entah ke mana. Tak mungkin aku bertanya motif pembunuhan suaminya, apalagi hal lain semacam bagaimana kelanjutan kedai nasi  gorengnya. Aku mencoba memahaminya sendiri: dia hanya seorang perempuan yang hancur hatinya karena kehilangan kekasih hati. Konon, memasak adalah aktivitas jiwa, lalu bagaimana bisa seseorang memasak dengan benar saat separuh jiwanya telah hilang? 

Aku pergi saat seorang pembeli datang dan memesan empat bungkus nasi goreng. Mak Rukati tersenyum kecut dan getir, seolah itu sebuah permintaan maaf atas cita rasa masakannya—bahkan saat pembeli belum mencicipi. Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya bisa berdoa, semoga Mak Rukati kuat. Namun tiba-tiba pikiran kurang ajar datang lagi: jika nasi goreng Mak Rukati telah kehilangan marwah sucinya, di mana lagi aku bisa memuaskan lidah?

Saat memikirkan itu, aku berada di dekat sebuah warung baru di pertigaan Ngebruk. Hidungku mencium sebuah aroma menakjubkan nan menggairahkan—yang  kurindukan enam bulan ini—dari sebuah warung.. Aku berhenti dan mematikan mesin motor. Aku melihat ke arah banner warung itu. Di sana tertulis: Nasi Goreng Super Istimewa.


Kudur, 24 Juli 2019

Abu Rifai merupakan penulis asal Pati, kelahiran 23 April 1999. Cerpen-cerpen dan esai-esainya dimuat di media massa cetak dan daring. Cerpen Nasi Goreng Istimewa didapuk sebagai juara kedua dalam sayembara cerpen remaja Jawa Tengah 2019. Pada saat yang sama, esainya berjudul Bahasa Meme, Bahasa Kritik Milenial menjadi juara 1. Kini ia menjadi fasilitator di Kelas Cerpen Nesatopia. FB: Abu Rifai IG: aaburifai