Cerpen Abu Rifai*
Sore ini aku ada janji dengan kekasihku, Alea. Sebenarnya sekarang aku sudah telat cukup lama, tapi tak apalah, toh kamu tak apa kan, Alea? Bukankah kamu sudah terbiasa menungguku? Jalanan macet, Alea, tolong tunggu sebentar. Sambil menuju ke tempatmu, aku ingin sedikit membayangkanmu.
Alea, jujur, bagiku kamu adalah salah satu pemandangan paling indah di muka bumi. Selain itu, kamu juga baik dan murah hati. Saat kita bersama, kamu lah yang sering menraktir makanan, tiket bioskop, permainan di mal, hingga barang-barang yang cukup mahal. Sebenarnya, Alea, aku malu—betapa sebagai lelaki aku seakan lebih lemah.
"Mumpung aku bisa memberimu," katamu kapan pun aku berusaha menolak pemberianmu. Dan saat itu aku hanya bisa tunduk kepadamu.
"Ini untukmu," katamu suatu hari sambil memberikan sebuah gawai keluaran baru. Aku terkejut, senang, sekaligus agak tersinggung. Iya, benar memang kalau aku begitu menginginkan barang itu, namun karena aku tak pernah punya banyak uang, maka barang itu hanya tampak sebagai mimpi sebelum kamu menghadiahkannya kepadaku saat hari ulang tahunku.
"Semoga tercapai semua keinginanmu, Sayang. Semoga kamu terus menyayangiku," ucapmu begitu manis. Saat itu, aku langsung mencium keningmu.
Maka begitulah kamu, Alea. Terlalu baik. Selalu memberi apapun kepadaku. Saat hari jadi hubungan kita, kamu memberiku satu paket pakaian mahal dan cokelat. Saat mamaku dirawat di rumah sakit, kamulah yang membiayai semuanya. Kenapa kamu sebegitu baiknya sih, Alea?
Alea, tahukah kamu, karena kemurahanhatimu itu, aku jadi terbiasa untuk meminta sesuatu kepadamu. Saat aku ingin sepatu baru, kamu memberiku. Saat aku ingin kemeja baru, kamu tak pernah keberatan. Bahkan, saat aku bosan dengan wajah cantikmu, kamu rela pergi sejenak.
"Aku pamit sebentar," lirihmu dengan wajah getir di bawah naungan senja. Dan aku pun mendapatkan perempuan yang baru, yang tak kalah cantiknya denganmu. Tapi, Alea, hubungan kami tak bertahan lama. Dia sama sekali tidak penyabar atau penyayang sepertimu. Pada sebuah malam yang hujannya rintik-rintik, aku meninggalkannya.
Lalu aku pun mencarimu, Alea. Aku rindu kamu. Aku mencarimu di kosmu, kampus, bahkan hingga ke sudut-sudut kota. Tapi hasilnya nihil; aku tak menemukanmu. Hingga pada suatu hari, mamamu memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi.
"Alea sudah pergi, Nak," kata beliau sambil terisak-isak. Aku pun menangis sejadi-jadinya, Alea. Apakah itu maksud dari pamitmu? Kamu tega, Alea! Kamu tega meninggalkan aku sendiri.
Untuk beberapa waktu, aku betul-betul merasa kehilangan kamu, Alea. Semua pemberianmu masih ada; jam tangan darimu masih menempel di tanganku, kemeja pemberianmu masih kupakai, sepatu darimu belum koyak. Namun apalah arti semua itu, Alea? Sekarang, waktu bersamamu tak bisa lagi kuulang, kemejaku harus kukancingkan sendiri, dan tak ada lagi yang temani langkahku.
Alea, maafkan aku yang terlambat menyadari bahwa kamu adalah kebahagiaanku, bukan barang-barang kosong itu. Maka, Alea, mari tetap berjanji untuk bertemu seminggu sekali di sini, di peristirahatan terakhirmu. Setidaknya, Alea, biarkan aku tetap bahagia walau hanya melihat gundukan tanah tempatmu menungguku untuk bersama kembali. []
Sekaran, 23 November 2017
20:02 WIB
Abu Rifai merupakan penulis asal Pati, kelahiran 23 April 1999. Cerpen-cerpen dan esai-esainya dimuat di media massa cetak dan daring. Kini ia menjadi fasilitator di Kelas Cerpen Nesatopia. FB: Abu Rifai IG: aaburifai

1 Komentar
ðŸ˜ðŸ˜
BalasHapus