Cerpen Adhim Fauzil*
“Jo, agamamu apa?"

Pertanyaan itu tak lagi asing bagiku sekarang. Dulu, pertanyaan itu tak pernah dikenal telingaku. Sampai aku pindah ke Pekalongan karena tuntutan pekerjaan.

Menjadi seorang pegawai negeri, aku harus siap dipindahtugaskan ke mana pun. Gajiku yang terbilang besar adalah hal yang setimpal dengan kepatuhan yang harus aku jalankan. Membawaku ke kota ini.

Gaji besarku pula yang membawaku kepada kebiasaan untuk memberi. Dua tahun lalu, aku tinggal di kaki Merapi, di tengah komunitas Katolik. Ada satu yayasan yang menampung anak-anak kurang beruntung di sana. Aku yang merasa diberkati dengan ekonomi yang lebih baik, sering menyumbang ke mereka. Sekali pun sekadar uang untuk makan pagi atau siang. Setidaknya aku sudah berbuat kebaikan.

“Terima kasih, Mas. Tuhan memberkatimu.”

Selalu kalimat itu yang aku dengar, sampai-sampai jarang kuperhatikan. Hingga aku mendarat di Pekalongan, ditempatkan di tengah komunitas muslim, dan tinggal di sana. Aku sadar, kalimat itu begitu berharga.

Di sini, uang lebih yang aku miliki tetap aku salurkan ke yayasan penampungan anak yang ada. Tidak ada yang terlalu berbeda sebenarnya, pemilik yayasan selalu membalas pemberianku dengan ucapan terima kasih dan doa. Sama saja.

Namun selalu ada kalimat yang mengusik telingaku. Setiap usai aku memberi sumbangan, rekan kerjaku akan selalu menodong dengan pertanyaan, “Jo, agamamu apa?”

Awal-awal aku memang terusik. Namun semakin hari, aku semakin terbiasa. Hanya saja aku masih tak habis pikir, kenapa kebaikan seseorang harus dinilai atas latar belakang agamanya. Padahal, sebagaimana keburukan, kebaikan itu merata. Tak memandang latar belakang apa pun, agama sekali pun.

Adhim Fauzil, kelahiran Pekalongan, 29 Juli 2001, yang saat ini sedang menempuh studi di Universitas Negeri Semarang. Mahasiswa yang aktif dalam berbagai kegiatan kesastraan seperti teater, puisi, dan kelas cerpen. Lebih suka sesuatu yang dingin ketimbang hangat, jarang sebaliknya.