Amimah U Mualifah
Kerutan di wajah Bude Karni semakin terlihat jelas. Jalannya juga semakin gontai. Masa tua yang belum memberi kemerdekaan finansial mengharuskannya tetap memiliki jiwa dan tenaga muda. Tak kenal lelah bekerja. Cerita hidup bahagia tentang menikmati hidup di masa tua hanya ilusi baginya. Untuk sebentar meninggalkan beban hidup, berkumpul dengan para tetangga menjadi salah satu pilihannya. Setidaknya ia bisa bercerita, mengeluarkan uneg-uneg. Meskipun sudah tentu respon yang didapat tidak selalu seperti yang diharapkan. Kepedulian manusia kepada manusia lain tetap akan berbeda dengan kepedulian Tuhan dengan manusia, hamba-Nya.
Hanya ada beberapa orang saja yang berkumpul sore ini, tidak sebanyak biasanya. Nunung, emak dan bapaknya, Mbak Sri dan putrinya Fita, Bu Lik Marni, dan Bude Karni. Rumah Nunung paling sering menjadi tempat berkumpul Bude Karni dengan para tetangga. Nunung duduk di tengah-tengah pintu bagian kiri dari pintu utama rumahnya. Emak dan Bapak Nunung, juga Bu Lik Marni tengah duduk di amben (dipan) bambu yang tidak jauh dari pintu yang ditempati Nunung. Bude Karni juga di amben, ia tengah berbaring dan matanya terpejam. Meski begitu, tampaknya dia tidak benar-benar tidur. Mbak Sri dan Fita duduk di pembatas yang terbuat dari tumpukan bata yang dilapisi adukan semen, menghubungkan tiang paling timur dengan dinding rumah Nunung.
“Hahahahahahahaha.....” Semua tertawa puas mengikuti akhir cerita yang dibawakan Mbak Sri. Hanya Bude Karni yang masih hanya membisu, tak menikmati cerita dan ocehan tetangganya itu.
“Kenapa, Lik? Sepertinya kok banyak pikiran,” tanya Mbak Sri ke Bude Karni.
Bude Karni masih diam. Matanya sudah tidak lagi terpejam. Tapi tatapannya kosong.
“Lagi pusing mikirin orang-orang rumahnya paling, Sri. Hahaha,” celetuk Bu Lik Marni.
“Kalau kamu jadi aku, pasti juga sebel. Sudah capek-capek pulang dari sawah. Lihat orang-orang di rumah malah tambah bikin semelah,” gerutunya. “Mending tidak usah bisa pulang selamanya di dunia. Akan lebih tenang daripada di rumah sebel terus bawaannya. Mending ma.....”
“Astaghfirullah Lik,” Emakku memotong ucapan Bude Karni.
“Wkwkwkw. Wis bener-bener frustasi beneran nih sepertinya.” Bapak puas menertawai Bude Karni.
“Ya pasti bakal semelah sih Lik Nar kalau jadi Bude Karni. Hahaha.” Lik Nar adalah panggilan kekerabatan dari Mbak Sri ke Emakku. “Bagaimana tidak? Kalau di rumah melihat suami dan anak bujangnya hanya enak-enakan nonton TV. Belum lagi ditambah dua putrinya yang masih kecil ngerengek minta dibeliin jajan. Mereka berempat suka sekali minta, minta dan minta uang untuk beli jajan.”
Bude Karni, secara kacamata umum, orang-orang akan sangat menyedihkan nasibnya. Kini ia harus menjadi tulang punggung keluarganya setelah suaminya tak lagi mampu bekerja lagi sebagai buruh pembuat bata di daerah Kembang. Hal itu karena paru-paru suaminya terserang penyakit, dia tidak bisa bekerja sekeras dulu lagi. Kalau dia memaksa kerja berat, nantinya malah akan menjadi beban lagi karena biaya pengobatannya. Bude Karni tidak mau menyalahkan penyakit suaminya, itu sudah takdir dari Tuhan, hanya saja setidaknya ia ingin suaminya itu bisa sedikit membantu pekerjaannya di rumah dan pekerjaan lain yang sekiranya ringan. Bukan hanya rebahan, nonton TV dan tiduran yang kuat sampai seharian.
Anak laki-lakinya, Danang juga dulunya kerja menjadi buruh pembuat batu bata. Dia sudah beberapa kali pindah tempat kerja. Namun hasilnya tidak seberapa. Danang hanya lulusan SMP. Jadi dia kerja serabutan untuk sedikit memberi uang makan bagi saudara-saudanya yang masih kecil. Namun sepertinya dia tidak begitu pandai mengelola pendapatannya. Egonya masih cukup tinggi karena sebagai anak laki-laki pertama yang sudah dewasa tetapi masih ingin senang-senang sendiri. Kini dia sedang tidak bekerja. Entah kenapa dia sedang dilarang ibunya, Bude Karni, untuk tidak kerja di luar daerah dulu. Danang tidak jauh beda dari bapaknya kalau soal pertanian. Jadi dia juga tidak bisa bantu banyak ngurus sawah.
Di usianya yang sudah cukup senja, Bude Karni masih harus mengurus dua putri kembarnya yang baru kelas tiga SD, Tina dan Tini. Bapaknya, kakaknya, Bude Karni sama-sama tidak memiliki riwayat pendidikan yang baik. Entah benar atau salah, sepertinya itu cukup perpengaruh terhadap anak-anaknya. Bisa dibilang, secara akademik maupun non-akademik, anak-anaknya cukup rendah. Meski sudah kelas tiga, Tina dan Tini masih kesusahan dalam membaca dan menulis karena masih bingung membedakan huruf-huruf. Selain itu Tina dan Tini tidak dibantu dalam belajar, atau bahkan mungkin tidak didorong untuk serius belajar ketika di rumah. Ya mungkin saja karena orang tuanya sudah mumet mikir untuk sekedar mencukupi kebutuhan perut. Sepertinya, keluarga itu masih berpikiran yang penting anaknya sekolah, nanti segera lulus, terus bantu nyari penghasilan. Soal kualitas pendidikannya atau pengembangan diri anak-anaknya itu nomor sekian.
Belum lagi, Tina dan Tini suka sekali membeli jajan. Makan sehari-haripun mereka tidak mau seadanya. Mereka pengennya makan pakai lauk telur. Meski begitu, kasihan mereka, badannya kurus-kurus. Uang yang didapat Bude Karni tidak seberapa jika harus memenuhi keinginan anak-anak mereka terus. Ada banyak kebutuhan lain yang juga harus ditanggungnya untuk bertahan hidup.
Sepertinya memang benar, bahwa pendidikan, kemiskinan, dan kesehatan itu seperti lingkaran setan. Mau dimulai dari mana saja jika ketiga hal itu kondisinya tidak baik, akan terus melingkar terus seperti itu. Cukup susah untuk terlepas dari lingkarannya.
Meski banyak program bantuan sudah digulirkan pemerintah, keluarga Bude Karni jarang sekali masuk dalam daftar warga penerima. Bantuan-bantuan itu seringnya salah sasaran. Banyak dari warga penerima bantuan yang justru jauh lebih beruntung darinya.
“Ah, entah gimana kok. Orang yang jelas-jelas ekonominya kurang ya malah tidak pernah dapat. Lha yang kayak Si Suti, yang sudah jelas-jelas uangnya ngalir terus dari hasil dagangnya malah masih saja dapat bantuan pemerintah. Sabarmu memang harus diluaskan Lik Kar.” Emak berupaya menenangkan Bude Karni.
“Pikiranmu harus bisa kamu kendalikan Lik. Lha kalau kamu nyerah, nanti hidupnya keluargamu malah gimana? Apalagi putri-putrimu yang masih kecil nanti tambah mau jadi kayak apa?” Bapak menimpali.
Bude Karni hanya diam.
Pucakwangi
April 2020
Amimah Ulul Mualifah merupakan alumni MA Tarbiyatul Islamiyah Pucakwangi yang telah kuliah di UIN Walisongo Semarang. Kini sedang belajar di Kelas Menulis Cerpen Nesatopia. FB: Amimah Ulul M, IG: amimimah_

0 Komentar